Peristiwa yang terjadi
dalam kehidupan akan menjadi kenangan indah dimasa tua nanti. Kita sering kali
mengukur kesuksesan seseorang dari pencapaiannya. Tetapi perlu disadari bahwa
tolak ukur penyetaraan kemampuan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Penulis
berkesimpulan bahwa kadar kesuksesan yang sebenarnya adalah “seberapa mampu
kita selesaikan apa yang kita mulai”. Setiap permulaan tentu akan memiliki
akhir, yang menjadi pertanyaan adalah akhir yang membawa perasaan bahagia atau
sengsara?.
Dalam kutipan ceramah
“ON Kan Hidupmu”, mas jamil menuturkan terdapat 4 kunci kesuksesan dalam hidup
yaitu vision, passion, action, dan collaboration. Sejatinya menerima sesuatu yang ada pada diri kita
bukanlah hal yang mudah, terkadang kita selalu menilai apa yang dimiliki orang
lain harus pula dimiliki oleh kita. Tidak terkecuali pada vision, penulis mengutip sajak yang digaungkan oleh seorang ulama
sekaligus sastrawan Indonesia “kalau
hidup hanya sekedar hidup, kera di rimba juga hidup, kerja kalau hanya sekedar
kerja kerbau di sawah juga bekerja”. Visi merupakan hal terpenting yang
harus dimiliki seseorang sebagai main orientation,
bukan hanya pada kehidupan yang fana ini tetapi juga untuk kehidupan yang kekal
nanti. Berkaca pada masa lalu ketika penulis duduk ditingkat taman kanak-kanak,
sering kali penulis maupun kita semua mengucapkan hal yang sama ketika ditanya
cita-cita seperti misalnya menjadi dokter, polisi, pilot bahkan astronaut.
Tetapi mari kita kembali ke masa sekarang, lalu kita tanyakan pada teman atau
bahkan diri kita. Masih sanggupkan kita untuk menggapai itu semua ?, atau kita
berfikir justru cita-cita itu menjadi tidak penting, karena yang terpenting
adalah kehidupan saat ini yang kita jalani sekarang ?. Dari sini kita penulis
menarik kesimpulan bahwa kita akan cenderung lebih realistis dalam menentukan
dengan berbekal pengalaman masa lalu, lalu apakah visi itu penting?, tentu
saja, visi merupakan target impian cita-cita kita baik saat ini maupun di
kehidupan nanti. Sebagai pemimpin walaupun hanya sekedar memimpin diri sendiri,
visi merupakan target capaian kita dalam bertindak. Namun yang menjadi
permasalahannya adalah pada keberanian dan ketergantungan kita pada orang lain
untuk menetapkan visi.
Selanjutnya adalah passion, sering kali kita menilai
ketertarikan bukan atas dasar perasaan yang kuat, melainkan hanya sekedar
mengikuti pilihan kebanyakan orang. Penulis menjumpai beberapa teman yang
mendapati kuliah yang bukan pada passionnya, seperti seorang anak teknik yang
justru memiliki passion tinggi pada bidang bisnis. Penulis menyadari realitas
seperti ini masih sering terjadi, maka dari itu mengenali diri sendiri
seharusnya merupakan tahap awal pendewasaan yang sejatinya. Lalu selanjutnya
adalah action, penulis beranggapan
bahwa passion dan action adalah satu kesatuan utuh. Mengutip
2 buah kalimat dari buku berjudul “art of
war” karya Tsun Zhu, “kenali dirimu,
kenali musuhmu. Seribu pertempuran,
seribu kemenangan” dan “kemenangan
biasanya hanyalah untuk para perwira dan prajurit yang terus berlatih”.
Mungkin bisa jadi hal ini terjadi pada kita, terkadang kita hanya berambisi
terhadap suatu hal dan berorientasikan kepada hasil, namun prosesnya sering
kali kita lupakan. Sejatinya tidak ada setiap kesuksesan yang didapatkan secara
instant. Jika demikian, apakah privilege akan
menentukan?, disini pribadi penulis kurang setuju terhadap privilege sebagai indikator utama, keinginan dan tindakan yang
kuatlah yang menjadi faktor penentu manusia hidup. Sebuah kisah dimana seorang
anak tukang becak yang merupakan lulusan ITB menjadi dosen luar biasa pada
salah satu kampus di Banten cukup menjadi bukti bahwa background orang tua tidak sepenuhnya berpengaruh pada kesuksesan anaknya
di masa depan.
Kemudian yang terakhir
adalah collaboration, zaman era
digital sekaligus sebagai masa perkembangan teknologi telah menjadi tututan
bagi kita semua untuk dapat saling terkoneksi satu sama lain. Melepaskan batasan
dan saling menggabungkan antara satu entitas dengan entitas lainnya adalah hal
yang utama saat ini. Kalimat “persaingan” dalam dunia akademisi akan dapat
lebih bermakna jika kita ganti dengan kata kolaborasi. Bukan berbicara siapa
yang terbaik, tetapi bagaimana cara kita menciptakan yang terbaik dari kita
untuk kita semua.
Untuk yang terakhir
penulis hendak menyampaikan, segala sesuatu yang kita tentukan akan memiliki
akibat. Kiat-kiat kesuksesan diri tidak pernah berada pada kesuksesan orang
lain. Sebagai manusia berakal kita dapat menentukan apa yang baik, dan apa yang
buruk bagi diri kita sendiri. This is
your life, mulailah menerima setiap kelebihan dan kekurangan dirimu. Tidak
setiap orang harus bekerja sebagai presiden, setiap orang memiliki kadarnya
masing-masing. Mulailah merencanakan masa depan yang indah, berfokuslah pada
proses yang dilalui dan jadikanlah hal tersebut sebagai kenangan yang indah.
Comments
Post a Comment