Semua orang pasti tahu tentang apa itu ospek. Mungkin
sebagian orang berpendapat bahwa ospek adalah ajang balas dendam senior
terhadap junior, namun sebagian orang pula berpendapat bahwa semua itu adalah
bentuk proses pendidikan mental. Namun pada dasarnya ospek adalah orientasi
studi pengenalan kampus, merujuk pada nama inilah dapat disimpulkan bahwa ospek
adalah sebuah ajang pengenalan kampus yang diselenggarakan oleh pihak
universitas sebagai proses tahapan penerimaan mahasiswa/i baru. Dalam tulisan
ini penulis akan mencoba membedah ospek berdasarkan sudut pandang dan pengalaman
penulis sampai saat ini.
Ospek
maupun masa pengenalan sekolah hakikatnya adalah gerbang awal pertemuan antara
siswa/i dan mahasiswa/i dengan kehidupan sekolah atau kampus. Pemerintah
tentunya mengeluarkan panduan tahapan pelaksanaan masa pengenalan ini dan
pemerintah pula yang menegaskan bahwa tidak boleh ada kekerasan di dalamnya.
Namun apakah memang betul fakta dan kenyataannya di lapangan ?
Dikalangan
pelajar mungkin tidak asing dengan istilah Tim kedisiplinan, Satuan Penegas, dan
beragam nama lainnya yang memiliki peran fungsi mendisiplinkan, sedangkan dalam
dunia kampus mungkin kita tidak asing dengan istilah komisi disiplin. Penulis
sepakat bahwa keduanya memiliki peran dan fungsi yang sama dalam kepanitiaan
yaitu, mendisiplinkan dan menjaga ketertiban jalannya acara agar sesuai
rencana. Namun seperti apa kenyataan yang terjadi di lapangan ?, apakah betul
masa pengenalan telah bersih dari budaya senioritas ?.
Berdasarkan
pengalaman penulis memang betul dalam kegiatan pengenalan siswa tugas dan
tupoksi dari tim kedisiplinan dan sebagainya adalah menjaga kedisiplinan dan
menjaga keamanan jalannya acara, namun pada faktanya ego masing-masing panitia
tetap ada yaitu ingin mengajarkan apa yang mereka rasakan di waktu lampau.
Penulis memahami betul sulit menghilangkan rasa balas dendam pribadi dan memang
budaya seperti ini sudah lama dipelihara dalam kepanitiaan saat masa
pengenalan. Penulis tidak bermaksud menyinggung pihak manapun melalui tulisan
ini, penulis hanya ingin mengutarakan apa yang menjadi permasalahan dan
bagaimana seharusnya.
Dengan
alasan ingin menanamkan karakter dan mental yang kuat hal inilah yang menjadi
alasan para panitia atau kaka tingkat untuk melakukan tindakan penegasan keras
secara verbal maupun action. Namun
yang terjadi di lapangan secara real adalah sebagai berikut :
1 .
Hormat Paksa
Menurut sudut pandang penulis kekerasan dalam ospek baik verbal maupun non-verbal
adalah sebuah kesalahan karena dalam konteks ini yang terjadi adalah budaya hormat
paksa terhadap kaka tingkat dan memiliki anggapan bahwa siswa/mahasiswa baru
tidak memiliki derajat yang sama dengannya.
2 .
Militerisasi
Penulis berpendapat demikian karena memang ada perbedaan
antara konsep pendidikan secara umum dengan konsep pendidikan dengan tujuan
militer. Hal ini karena output yang
dihasilkan dari para lulusan pun akan berbeda dan memiliki peran fungsi
masing-masing. Terkecuali terdapat perubahan dari peraturan perundangan yang
mengatur tentang masa pengenalan dan melibatkan militer, namun tentunya didikan
yang dibawakan oleh militer secara langsung memiliki tujuan yang jelas bukan
dengan tujuan balas dendam atau budaya lampau.
3 . Balas
Dendam
Menurut pandangan penulis balas dendam ini terjadi karena
mereka menerima perlakuan yang sama dengan kaka tingkatnya dulu, sehingga perlu
pelampiasan pembalasan dendam terhadap juniornya. Tentunya hal ini tidak bisa
dibenarkan karena tindakan seperti ini hanya akan melahirkan budaya yang konyol
dan tidak memiliki arti sama sekali.
Pemerintah tentunya sudah
mengupayakan untuk menghilangkan budaya yang sudah turun temurun terjadi ini
yang mungkin tidak diketahui pihak rektorat ataupun sekolah secara langsung,
karena permainan cantik dan ditambah kemungkinan lemahnya pengawasan dari pihak
terkait. Kegiatan ospek dan pengenalan sudah seharusnya dilakukan dengan cara
yang bijak dan bermartabat bukan dengan cara yang menjunjung tinggi nilai-nilai
senioritas yang sudah menjadi budaya. Seharusnya menjadi pertanyaan apakah
perlu memelihara suatu budaya yang tidak relevan seperti ini bahkan justru
berpotensi menimbulkan efek balas dendam, tentu
tidak.
Peranan pengawasan kampus sangat
diperlukan disini agar tindakan-tindakan asal yang dilakukan oleh para oknum
dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan. Melalui tulisan ini juga penulis
mengajak untuk para calon siswa dan mahasiswa baru di tahun yang akan datang
untuk berani bersuara, mengungkapkan pendapat dan berani mengatakan “tidak”
pada aksi kekerasan baik verbal maupun non-verbal, perpeloncoan dan budaya
paksa hormat. Karena seharusnya tidak ada yang menjadi pembeda antara junior
dan senior, Senior bukan berati selalu benar dan junior bukan berati selalu
salah.
Kekerasan Dalam Ospek
Ospek Masa kini
Budaya Ospek
Ospek Masa kini
Budaya Ospek

Comments
Post a Comment