Skip to main content

POTRET PENDIDIKAN


PENDIDIKAN BUKANLAH DOGMATIS





Waktu yang semakin berputar dan teknologi yang semakin berkembang dengan pesat. Semuanya bergerak bukan karena kehendak kita, tetapi karena orang sudah tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Hal inilah yang mendorong anak-anak zaman sekarang selalu merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Bukan hanya sebagai kebutuhan hidup melainkan juga sebagai ajang perlombaan memperkaya diri akan harta bukan memperkaya diri akan ilmu pengetahuan. Maka tidak heran jika orang tua atau orang-orang generasi Y menjadi khawatir dengan itu semua. Bukan hanya berdampak pada gaya hidup, tetapi akan menjadi apa anak itu kedepannya. Oleh sebab itu pendidikan yang bekualitas menjadi salah satu hal terpenting bagi anak-anak atau para kaum generasi Millenial karena seharusnya sekolah akan mengajarkan corak kepribadian seseorang. 

Pendidikan secara umum dapat dikatakan sebagai proses pembelajaran dari tidak tahu menjadi tahu. Dalam arti khusus pendidikan dapat di artikan sebagai pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Melalui kedua makna pendidikan ini seharusnya, pendidikan mampu mencetak generasi-generasi muda pelurus bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, namun sangat disayangkan sistem dan peraturan yang ada dapat dikatakan masih sangat rendah, khususnya pada bidang pendidikan. Di bidang pendidikan ini, khususnya penulis dapat merasakan betul bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata standar. Hal tersebut di karenakan karena guru yang mengajar para siswa ditambah sistem pendidikan yang ada dapat dikatakan sudah kuno.  

Pendidikan yang diterapkan di Indonesia masih berbasis hafalan. Tidak jarang di jumpai di sekolah-sekolah guru membebani siswa dengan tugas yang sangat berat. Tugas yang sangat banyak dan di tambah metode pembelajaran hafalan merupakan bukti bahwa guru tidak yakin siswa/i nya dapat mengerti apa yang telah dijelaskannya. Metode hafalan adalah sistem pembodohan paling mudah, dimana siswa akan menghemat 6 tahun pendidikan dasarnya, mempersingkat 3 tahun pendidikan menengahnya, memperlancar 3 tahun sebelum jenjang kuliahnya nanti serta mempermudah mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif yang besar sebelum memasuki dunia karier. Menghafal akan mempermudah 6 tahun, 3 tahun atau bahkan 4 tahun masa pendidikan kita tetapi, menghafal akan meremukan 40 tahun karier kita nanti. Karena semua yang kita ketahui hanya berdasarkan 1 aspek atau satu point saja, tentu akan berbeda antara masa belajar dengan  masa kehidupan yang sebenarnya. 
Banyak para guru yang berkata bahwa, “sistem pendidikan Indonesia ini sudah cukup baik, dimana memaksimalkan semua potensi yang ada.” Dari point ini sebenarnya ada kekeliruan, dimana tidak semua siswa dapat memahami fisika dengan baik, tidak semua anak IPA mencintai dunia science, tidak semua anak IPS minat akan hal berbasis keuangan atau social bahkan tidak sedikit anak SMK yang salah jurusan. Guru selalu memaksakan bahwa siswa harus pandai dalam semua mata pelajaran yang ada. Anak hanya akan di katakan pintar ketika dirinya menguasai seluruh pelajaran yang di bawakan oleh masing-masing guru. Mungkin siswa/i Indonesia tidak akan asing dengan hal ini, “standar kenaikan kelas di tentukan oleh nilai agama seseorang.” lantas demikian, apakah bisa menilai keimanan seseorang hanya dengan sebuah angka, tentu tidak bisa. 

Pendidikan seharusnya mendidik siswa, memperkaya siswa akan ilmu pengetahuan, memberi wawasan akan hal – hal baru dalam kehidupannya, pendidikan bukanlah metode pemaksaan siswa untuk mendapat score maksimal terhadap apa yang di pelajarinya. Karena tidak semua siswa harus menjadi seorang fisikawan, tidak semua orang minat menjadi dokter dan tidak semua orang minat pada bidang olahragawan. Manusia memiliki 2 bagian otak, yakni otak kanan & otak kiri. Otak kanan yang berfikir tentang imajinasi dan estetika atau keindahan, sedangkan otak kiri berbicara tentang kelogisan seseorang terhadap suatu hal. Seorang fisikawan tidak akan pernah butuh pelajaran seninya, orang yang ingin menjadi atlet tentu tidak akan mendapatkan kemampuannya dari segi pembelajaran akademik di sekolahnya, orang yang ingin menjadi ahli designer tentu tidak akan pernah membutuhkan pelajaran fisikanya.  

Dari beragam permasalahan yang ada sudah seharusnya guru dan sistem pendidikan seharusnya bersifat mendidik bukan memaksa. Metode pembelajaran guru yang salah di tambah, standar yang di terapkan tidak sesuai akan memperburuk kualitas pendidikan yang ada. Guru seharusnnya melatih kecerdasan siswa sesuai kompeten yang mampu di raih siswa tersebut, bukan malah memaksakan sesuai dengan standar apa yang dimiliki oleh seorang guru. Metode belajar efektif, seperti penelitian dan riset dapat menjadi jawaban dari permasalahan yang ada saat ini. Anak-anak generasi Millenial cenderung sudah memiliki segala kebutuhannya, baik primer maupun sekunder. Mereka mendapatkan itu semua berkat orang tua dan orang-orang generasi Y yang mampu mengembangkan teknologi yang canggih sehingga, dapat di manfaatkan pada masa Millenial ini seperti, Bilgets dan Steve Jobs dimana keduanya adalah founder Microsoft dan Apple. 
Siswa/i zaman sekarang hanya mau menikmati hasil bukan proses yang dilalui. Kecerdasan seseorang bukan di tentukan oleh hasil, melainkan dengan proses dan apa yang telah dilakukannya hingga menjadi seperti itu. Guru seharusnya bukan membawa siswa menuju hasil yang terbaik melainkan, guru seharusnya mampu membawa siswa menuju proses yang baik. Proses yang baik tidak akan pernah mengkhianati hasil, sedangkan hasil yang baik belum tentu diikuti oleh proses yang baik. Parlementer sekarang mayoritas bergelar Sarjana, tetapi tidak ragu mencuri uang rakyatnya. Akankah para pemuda generasi Millenial menjadi penerus  kerusakan yang telah terjadi sebelumnya, tentu tidak. Berangkat dari persoalan guru, ketika kita membahas ujian guru selalu menekankan untuk mendapatkan hasil terbaik bukan proses yang baik, banyak penulis rasakan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu SD, SMP bahkan sampai penulis masuk ke jenjang SMK. Guru tidak pernah menjujung tinggi dalam aspek moralitas kejujuran, hal ini terbukti pada saat ujian berlangsung, tidak sedikit guru mengizinkan siswanya bertukar jawaban dengan dalih tidak ingin mempersulit siswa. Perilaku yang terus terulang tentu akan menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan yang semakin terbiasa akan menjadi moral dasar seseorang, maka jangan heran jika para koruptor tetap berkembang dengan luwesnya.  

Pendidikan pengajaran seharusnya dibawakan oleh guru dengan metode yang tepat. Dalam hal ini kita bisa mencontoh cara pendidikan dari negara lain yang telah menerapkan sistem riset dan penelitian, melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan sekitar, siswa/i seharusnya mampu menjadi pribadi yang sosial, disamping bakat atau hobby orang tersebut adalah hal lain seperti fisika, tetapi dengan begitu siswa akan mengetahui bagaimana cara fisika mampu membawa perubahan pada dinamika kehidupan sehari-hari. Bagaimana carannya menjadi Bilgets kedua dan bagaimana caranya menggeser Apple dari top brand marketing. Ketika metode yang dibawakan guru adalah sistem riset dan penelitian, siswa akan mampu merefleksikan diri dengan lingkungan yang ada, sehingga pembangunan terhadap masyarakat itu sendiri dapat terlaksana dan masa Millenial akan menjadi masa tumbuh kembang nya pendidikan di Indonesia dan menjadi proses Indonesia menuju negara maju.


#esai,#esaipendidikan,#gudangpendidikan, #karyatulisilmiah, #karyatulispendidikan, #karyatulissma, #kti, #lkti, #pendidikan, #pendidikanbukandogmatis, #pendidikanmillenial, #sma, #smk,

Comments

Post a Comment